Mina Bahari Eretan

Ada Empat Rasa, Sudah Diekspor ke Malaysia

bentuk ikan kuniran

bentuk ikan kuniran

Jangan meremehkan ikan limbah yang seringkali hanya diolah menjadi makanan ternak oleh sebagian masyarakat. Di tangan nelayan Indramayu, ikan ini menjadi sesuatu yang berharga.

ZAHRA KUSUMA AYU, Jogja

————

Kuniran, inilah nama ikan yang menurut nelayan tidak mempunyai nilai jual sama sekali. Bahkan oleh mereka biasa dibuang atau dibuat untuk makanan ternak para nelayan. Tapi di tangan kelompok Koperasi Unit Daerah (KUD) Mina Bahari Eretan Kulon, Kandanghaur, Indramayu, Jawa Barat, kuniran menjadi camilan berkualitas dengan nilai jual tinggi.

”Ini bisa mencapai lima kali lipat dari nilai ikan sebelumnya. Bahkan awalnya kuniran tidak mempunyai nilai jual sama sekali, karena dianggap sampah oleh para nelayan,” kata Wahyu Adiwijaya, perwakilan KUD Mina yang ditemui Radar Jogja pada pameran Invesda Expo 2008 di JEC, kemarin.

Ia menambahkan, selain ingin memanfaatkan ikan kuniran juga sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru bagi para nelayan atau warga sekitar. Menurut Adi, ini merupakan makanan hasil laut yang pertama di Indonesia dengan bahan utama ikan kuniran. Produk olahan ini dibuat dengan proses pengeringan.

Proses kerja Crispy Ikan ini awalnya dilakukan pembersihan dan pemotongan yang dilakukan nelayan atau warga terdiri atas 10 sampai 20 orang dalam satu kelompok. ”Di sana ada beberapa kelompok dalam pengerjaannya,” tambah Adi.

Ikan kemudian ditipiskan dengan menggunakan mesin penggilingan, bertujuan pembentukan tekstur daging serta memudahkan penetrasi bumbu. Prosesnya diolah melalui prinsip pengeringan (oven) dengan penambahan gula, garam, dan flavour yang dapat memberikan rasa serta aroma enak.

Pengeringan dilakukan menggunakan mesin tenaga surya kombinasi efek rumah kaca dengan pengeringan selama tiga jam. ”Pengeringan untuk memperoleh hasil yang benar-benar matang dengan cita rasa yang enak,” tambah Elan Triono yang juga perwakilan dari KUD Mina.

Elan mengatakan, makanan olahan ini tidak menggunakan bahan pengawet. Kadar kadar protein ikan kuniran ini cukup tinggi yaitu 60,8 persen. Adi mengakui pemasaran yang sudah dilakukan KUD Mina telah mencapai Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, bahkan Malaysia.

”Kami ingin mengenalkan makanan olahan dari ikan kuniran ini dengan empat rasa, dua di antaranya keju dan balado kepada masyarakat di Jogja sebagai alternatif camilan yang terbilang sehat. Harganya relatif murah mulai Rp 5.500 – Rp 20.000, tergantung kemasannya,” tandasnya.

Ke depan Adi berharap dapat lebih meningkatkan penjualan serta memperbaiki kemasan yang selama ini hanya menggunakan tempelan saja. ”Nantinya ingin sekali sudah menggunakan sablon dan mengubah kemasan menggunakan tabung. Sehingga kesannya lebih mantap,” ungkapnya. ***

sumber : http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=18493

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: