keikutsertaan pameran

April 6, 2009

Ikan Kuniran Siap Saji Dipamerkan di Jakarta dan Surabaya

pilet ikan kuniran eretan

pilet ikan kuniran eretan

(Nusantara] Ikan Kuniran Siap Saji Dipamerkan di Jakarta dan Surabaya Indramayu, Pelita KUD Mandiri Mina Bahari dari desa Eretan Kulon Kecamatan Kandanghaur Maret 2008 ini mengikuti sebuah pameran Produc Bahari & Show yang diadakan selama tiga hari di Jakarta Convension Centre (JCC) Senayan. Pameran diselenggarakan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan RI menampilkan beranekaragam ikan yang merupakan kekayaan laut di Indonesia. Menurut Ketua KUD Royani SE, MM dalam arena itu, koperasi yang dipimpinnya menampilkan ikan kuniran yang telah dipilet dan diproses dalam kemasan makanan siap saji. Produksi siap saji ini merupakan salah satu keunggulan kegiatan perikanan di Kabupaten Indramayu karena telah dapat memberikan nilai tambah. Selesai pameran di Jakarta, ikan kuniran siap saji selanjutnya akan diikutsertakan dalam pameran di Tunjungan Plaza Surabaya yang merupakan agenda tahunan dari Departemen Kelautan dan Perikanan RI. Menyejahterakan nelayan Dijelaskan, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan nelayan, koperasi mengadakan upaya-upaya meningkatkan nilai ikan dengan cara melakukan inovasi pengolahan ikan. Bekerja sama dengan Indonesia Bisnis Link (IBL), Usaid, BP Indonesia, Departemen Kelautan dan Perikanan, Pemda Indramayu, dan Eksportir PT Aqua Cultur, sekarang ini KUD Mandiri Bina Bahari Eretan Kulon telah mendirikan pabrik pengolahan ikan Kuniran yang mulai beroperasi pada pertengahan Desember 2007. Menurut Royani, ikan ini semula dianggap kurang bernilai sehingga harganya murah hanya Rp 700,-/kg. Setelah mendapatkan sentuhan tehnologi, ikan kuniran kini memiliki nilai ekonomi yang lumayan, ketika telah siap saji harganya menjadi Rp79.000/kg. Karena itu, harga ikan yang semula Rp700,- dinaikkan harga jualnya menjadi Rp1.700/kg sehingga secara langsung meningkatkan pendapatan nelayan. Keluarga ikutserta Selain itu, keluarga nelayan bisa ikutserta dalam proses pemiletan (dihilangkan kepala dan tulang belulangnya) ikan kuniran, yaitu membeli ikan mentah lalu memiletnya. Karena redimentasinya 10:1 maka 10 kg ikan kuniran basah akan menghasilkan 1 kg ikan hasil pilet. Setelah dipilet, ikan itu dijual ke pabrik dengan harga Rp30.000/kg, karena harga beli 10 kg ikan basah Rp17.000 maka ada keuntungan Rp13.000. Ada 450 orang ibu-ibu keluarga nelayan yang mengelola bahan baku menjadi setengah jadi, per orang rata-rata mampu mengerjakan 20 kg bahan baku, sehingga keluarga nelayan pun mendapatkan penghasilan yang lumayan. Para ibu keluarga nelayan tersebut setiap hari mampu mengerjakan 2 ton ikan basah untuk dipilet menjadi 2 kuintal, sehingga setiap bulannya memerlukan ikan kuniran sebanyak 60 ton. Ini merupakan kesempatan para nelayan untuk meningkatkan penghasilannya. Ikan kuniran yang telah dipilet diolah lagi di pabrik secara modern, dibumbui dan dikemas secara cermat. Hasil kemasannya selain dijual di dalam negeri juga di ekspor ke luar negeri dengan harga Rp79.000 per kg, selain itu dibuat pula kemasan kecil dengan harga jual Rp4.000,-, urai Ketua KUD Mandiri Mina Bahari, Royani SE, MM. (ck-001)

sumber : http://www.pelita.or.id/baca.php?id=46630


liputan media Eretan Kulon

April 6, 2009

Dari Eretan ke Negeri Jiran

packing ikan kuniran

packing ikan kuniran

Panganan olahan membalik nasib nelayan setempat dan nasib ikan kuniran

Ikan kuniran yang didapat dari hasil melaut, selama ini dipandang sebelah mata oleh para nelayan Indramayu, karena tak laku dijual di pelelangan. Paling banter, ikan ini digunakan sebagai pakan bebek. Padahal, dalam sehari para nelayan Desa Eretan Kulon, Kandanghaur-Indramayu dapat mendaratkan 2 ton ikan kuniran.
Tapi itu dulu. Sekarang ikan kuniran banyak ‘diburu’, terutama sejak berdirinya pabrik pengolahan snack (makanan ringan) berbahan baku ikan kuniran di desa tersebut awal tahun ini. Pabrik yang di kelola oleh KUD Mina Bahari ini hasil kerjasama Pemda Indramayu, DKP, USDA, dan salah satu produsen makanan ‘cemilan’ sejenis asal Malaysia.

Mengangkat Kesejahteraan Nelayan
Harga ikan kuniran pun langsung melonjak. Yang dulu hanya dibeli Rp 1000/kg, kini ikan kuniran di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) dibandrol Rp 80.000 – 150.000 per keranjang (30 kg). Demikian menurut Rauf, penanggung jawab operasional pabrik pengolahan snack ikan kuniran.
Royani, Sekretaris KUD Mina Bahari juga mengaku, berdirinya pabrik tersebut telah meningkatkan kesejahteraan lebih dari 450 nelayan pengolah. Mereka mem-fillet dan mengeringkan ikan sebelum diolah pabrik. “Istri-istri nelayan ikut aktif mengolah fillet, dan mendapat penghasilan Rp 20.000 /hari/orang,” kata Royani.
Menurut Rauf, pihaknya membeli fillet ikan kuniran dengan harga Rp 35.000/kg. “Targetnya, pabrik memproduksi 200 kg snack/hari. Artinya, butuh ikan kuniran 2 ton/hari.” Artinya juga, seluruh ikan kuniran hasil tangkapan yang mencapai 2 ton/hari, terserap oleh pabrik.
Berdasar keterangan AR Hakim, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan, Kabupaten Indramayu, sebelumnya para nelayan di Eretan Kulon sudah mengekspor fillet ke Malaysia. “Tapi itu tidak bisa dibiarkan terus-menerus. Pabrik pengolahan didirikan agar nilai tambahnya untuk Indramayu,” ujarnya.
Hakim mengatakan, Pemda telah menginvestasikan dana Rp 1 miliar. Kekurangannya yang hampir Rp 2 milar, dihimpun berbagai pihak, termasuk perusahaan pengolah snack ikan kuniran asal Malaysia.

Malaysia Pasar Utama
Panganan ini sebenarnya telah lama dikenal masyarakat Malaysia. Menurut Rauf, yang pernah mengikuti pelatihan pengolahan snack ikan kuniran ke Malaysia, masyarakat Negeri Jiran ini terbiasa mengkonsumsi panganan berbahan baku ikan.
Ekspor perdana telah dilaksanakan akhir Maret lalu, dengan mengirim 1 ton snack ikan kuniran ke Malaysia. Produk ini dijual Rauf dengan harga Rp 2.900/pack (30 gr), sementara biaya produksi Rp 60.000/kg, termasuk transportasi. “Permintaan Malaysia 3 ton/bulan,” imbuhnya. Selain Malaysia, pasar lokal pun sudah mulai dikembangkan, terutama Surabaya dan Bali. Jika berhasil, pabrik tersebut juga berencana akan melakukan diversifikasi terhadap produk yang akan dihasilkannya, dengan mengolah snack yang berbahan baku udang dan ikan cumi.

Sumber : http://www.trobos.com/show_article.php?rid=23&aid=1017


Mina Bahari Eretan

April 6, 2009

Ada Empat Rasa, Sudah Diekspor ke Malaysia

bentuk ikan kuniran

bentuk ikan kuniran

Jangan meremehkan ikan limbah yang seringkali hanya diolah menjadi makanan ternak oleh sebagian masyarakat. Di tangan nelayan Indramayu, ikan ini menjadi sesuatu yang berharga.

ZAHRA KUSUMA AYU, Jogja

————

Kuniran, inilah nama ikan yang menurut nelayan tidak mempunyai nilai jual sama sekali. Bahkan oleh mereka biasa dibuang atau dibuat untuk makanan ternak para nelayan. Tapi di tangan kelompok Koperasi Unit Daerah (KUD) Mina Bahari Eretan Kulon, Kandanghaur, Indramayu, Jawa Barat, kuniran menjadi camilan berkualitas dengan nilai jual tinggi.

”Ini bisa mencapai lima kali lipat dari nilai ikan sebelumnya. Bahkan awalnya kuniran tidak mempunyai nilai jual sama sekali, karena dianggap sampah oleh para nelayan,” kata Wahyu Adiwijaya, perwakilan KUD Mina yang ditemui Radar Jogja pada pameran Invesda Expo 2008 di JEC, kemarin.

Ia menambahkan, selain ingin memanfaatkan ikan kuniran juga sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru bagi para nelayan atau warga sekitar. Menurut Adi, ini merupakan makanan hasil laut yang pertama di Indonesia dengan bahan utama ikan kuniran. Produk olahan ini dibuat dengan proses pengeringan.

Proses kerja Crispy Ikan ini awalnya dilakukan pembersihan dan pemotongan yang dilakukan nelayan atau warga terdiri atas 10 sampai 20 orang dalam satu kelompok. ”Di sana ada beberapa kelompok dalam pengerjaannya,” tambah Adi.

Ikan kemudian ditipiskan dengan menggunakan mesin penggilingan, bertujuan pembentukan tekstur daging serta memudahkan penetrasi bumbu. Prosesnya diolah melalui prinsip pengeringan (oven) dengan penambahan gula, garam, dan flavour yang dapat memberikan rasa serta aroma enak.

Pengeringan dilakukan menggunakan mesin tenaga surya kombinasi efek rumah kaca dengan pengeringan selama tiga jam. ”Pengeringan untuk memperoleh hasil yang benar-benar matang dengan cita rasa yang enak,” tambah Elan Triono yang juga perwakilan dari KUD Mina.

Elan mengatakan, makanan olahan ini tidak menggunakan bahan pengawet. Kadar kadar protein ikan kuniran ini cukup tinggi yaitu 60,8 persen. Adi mengakui pemasaran yang sudah dilakukan KUD Mina telah mencapai Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, bahkan Malaysia.

”Kami ingin mengenalkan makanan olahan dari ikan kuniran ini dengan empat rasa, dua di antaranya keju dan balado kepada masyarakat di Jogja sebagai alternatif camilan yang terbilang sehat. Harganya relatif murah mulai Rp 5.500 – Rp 20.000, tergantung kemasannya,” tandasnya.

Ke depan Adi berharap dapat lebih meningkatkan penjualan serta memperbaiki kemasan yang selama ini hanya menggunakan tempelan saja. ”Nantinya ingin sekali sudah menggunakan sablon dan mengubah kemasan menggunakan tabung. Sehingga kesannya lebih mantap,” ungkapnya. ***

sumber : http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=18493


Benahi Kelemahan, Rancang Rasa Baru

April 2, 2009

ikan kuniran

Rasa Baru Ikan Kuniran

Moment pergantian bulan April 2009 sangat baik bagi pengusaha pesisir utara untuk melakukan rancangan perubahan formula rasa. Sebenarnya Bisnis ide awal usaha di rintis oleh KUD Mina Bahari Desa Eretan Kecamatan Kandanghaur Kabupaten Indramayu pada januari 2008 dengan maksud dibuka peluang bisnis ini karena tuntutan masyarakat sekitar untuk meminta KUD bisa memfasilitasi peluang bisnis ikan kuniran yang bahan bakunya melimpah ruah. Kemudian atas hasil kesepakatan musyawarah anggota tuntutan bisnis untuk mengolah ikan kuniran ini direspon bersama-sama guna mensejahterakan anggota KUD dan Masyarakat  sekitarnya.

KUD Mina Bahari Eretan Indramayu mempunyai unit usaha 9 unit antara lain : Unit SPDN, Unit Simpan Pinjam, Unit Pabrik Es, Unit Toserba, Unit Pengolahan Ikan Kuniran, Unit Pelelangan Ikan, Unit Pengadaan Alat Tangkap Ikan, Unit Jasa Transportasi, Unit Penjualan Air PDAM. Masing-masing Unit di kendalikan oleh 1 manager. Semua unit yang dikelola berada di satu lokasi di Desa Eretan Kecamatan Kandanghaur Kabupaten Indramayu. Dimana unit-unit ini sudah mempunyai tempat dan fasilitas yang memadai.

Peluang bisnis Pengolahan Ikan Kuniran ini secara menjanjikan, karena bisnis ini mampu untuk menghidupi dan mensejahterakan 30 kelompok atau sekitar 400 orang keluarga yang tersebar di wilayah kerja KUD Mina Bahari. Bahan Baku Ikan Kuniran melimpah ruah per hari 30 ton. Dimana Unit Pengolahan Ikan Kuniran KUD Mina Bahari hanya bisa menampung 1 ton. Jadi masih ada 29 ton yang belum bisa terfasilitasi untuk di kelola dengan baik. 29 ton ini di jual oleh para pemilik ikan dengan pola 3 jalur yaitu : 1) Di jual Segar ( 60% ), 2) Di asinkan (30%) dan 3) Pabrik Pakan 10%. KUD baru bisa menampung hasil olahan ikan dari masyarakat ½ kering dan kemudian di buatkan Pilet Ikan Kuniran dengan teknologi yang higienis, ditangani tenaga professional dan kualitas produk yang ramah lingkungan. Anda merasa tertarik dengan bisnis ini silahkan hubungi kami, siap untuk bekerjasama yang saling menguntungkan. Semoga peluang ini bisa menambah berkah dan kemajuan kita bersama dan masyarakat pada umumnya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.